*TUBUH*
*(Dalam Pandangan Sasak)*
Oleh: Nuriadi Sayip
Ciri bangsa yang berperadaban tinggi adalah apabila bangsa tersebut mampu mendefinisikan diri dan keberadaannya dengan istilah atau penamaan yang variatif.
Sasak, saya kira, termasuk bangsa yang berperadaban tinggi. Alasannya adalah karena ia mampu mendefinisikan dirinya dengan penamaan pada satu obyek dari perspektif yang berbeda tergantung titik tekan konsepnya.
Contoh kecilnya adalah pada penamaan "tubuh" atau "raga" manusia. Di Sasak, untuk menamai tubuh, orang Sasak memandangnya terdiri atas dua macam tubuh sehingga, akibatnya, penamaannya berbeda satu dengan yang lain.
Orang Sasak mengenal tubuh menjadi dua, yaitu tubuh kasar/materiil atau fisik dengan sebutan "Awak" atau "Rage". Selain itu, Sasak juga mengenal tubuh halus atau nonmateriil atau bathiniah dengan sebutan "Perane".
Awak atau rage diberi makan dengan makanan dan minuman yang memang dibutuhkan oleh tubuh supaya bisa hidup terus. Demikian halnya, Perane pun harus diberi makan dengan makanan yang diharapkan yaitu berupa pikiran positif, doa, semedi, dan pergaulan yang nontoksik.
Tujuan makanan, baik makanan material maupun makanan yang non material, adalah supaya dua tubuh manusia, yang selalu menyatu dalam diri seorang pribadi manusia, bisa tetap sehat bugar dan hidup dengan baik dan sempurna. Dengan kata lain, supaya tubuh itu tetap berjalan seimbang (sakinah) dan memberi manfaat kontributif positif pada orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Mengapa bisa begitu? Karena sejatinya makanan yang ditujukan untuk Awak dan Perane itu sejatinya mewujud menjadi "balung" atau energi. Energi inilah yang.menghidupi tubuh. Tanpa energi, mau sebesar dan sekekar apapun tubuh, dia akan roboh dan lemas tak berdaya jika tidak diberi makanan sesuai porsinya.
Dampak dari pemenuhan makanan tubuh, awak dan perane, ini adalah terus berdaya dan terus beraura (bercahaya) kharismatik. Maka dari itu, kita sebagai orang Sasak yang terkenal religius dan berspiritual aerta yang terkenal pekerja keras (kereh) dianjurkan terus memperhatikan pemberian makan-minum dua tubuh, awak dan perane, secara seimbang. Maka, janganlah merasa lelah untuk bekerja, berkarya demi.mendapatkan rejeki untuk kebutuhan awak, namun pada saat yang sama janganlah pula merasa bosan dan enggan untuk terus beribadah sesuai ajaran agama demi pemenuhan makanan perane. Harus seimbang. Dampak konkritnya adalah tubuh akan selalu bugar dan pikiran akan selalu tenang. Ketika tenang, maka sejatinya tubuh kita sudah menghadirkan Tuhan secara otomatis dalam setiap pikiran, pandangan serta gerak langkah tubuh.
Dalam hal ini, di sinilah urgensi atau arti pentingnya kita berkumpul dalam lingkaran orang-orang alim sholeh yang dibimbing para tuan guru atau para mursyid atau guru tarekat atau para ahli zikir. Mereka adalah orang-orang yang diyakini sudah lekat dengan cahaya Ilahi. Beliau-beliau pun pastinya membantu diri kita menghidupkan kesadaran spiritual kita (perane) untuk terus menggapai "balung" (energi) demi kebutuhan hidupnya kita. Semangat Saudaraku!
Wallahua'lam.
Mataram, 30.Maret 2026
Sumber: www.nuriadisayip.blogspot.com
TUBUH (Dalam Pandangan Sasak)
Reviewed by Prof. Dr. H. Nuriadi Sayip S.S., M.Hum
on
Maret 31, 2026
Rating:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar