Beberapa Keunikan yang Tampak dalam Kisah Naskah Megantaka dari Perspektif Sastra
Oleh: Nuriadi Sayip *)
Salah satu cerita lisan nusantara yang kemudian didokumentasikan dan dinaskahkan dalam bentuk huruf latin dan berbahasa Indonesia adalah Geguritan Megantaka, yang diterbitkan sebagai Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayan Republik Indonesia tahun 1981. Awalmya naskah ini berbentuk sastra lama dalam bahasa Kawi serta berhuruf Jejawan yang kemudian berkembang ke berbagai daerah di Indonesia khususnya di Lombok, NTB.
Cerita ini awalnya ditulis dalam bentuk geguritan atau dalam bentuk puisi prosais yang terikat dalam sejumlah pupuh tembang. Meski ditulis dalam bentuk pupuh tembang, sejatinya naskah ini berbentuk cerita prosa atau fiksi prosa yang mempunyai unsur-unsur intrinsik berupa tokoh, penokohan, alur, latar dan sebagainya.
Dalam pandangan sekilas, kisah ini tak jauh berbeda dengan cerita-cerita sastra dari arketipe atau pola umum penceritaannya. Yaitu: 1. Berlatar kerajaan atau kebangsawanan (berupa tokoh raja, putri, pangeran), 2. Peperangan antara kerajaan yang sama-sama sakti mandraguna, 3. Pelibatan tokoh jin dalam kisah cerita, dan 4. Cenderung hadirnya kekuasaan semesta dan peran Tuhan dalam suspensi alur cerita. Demikian pun terjadi yang tampak sangat jelas dalam naskah Megantaka ini.
Namun demikian, ada beberapa catatan yang menarik untuk dikulik atau dieksplorasi lebih jauh terkait kisah cerita Megantaka dimaksud. Yakni sebagai berikut:
*Pertama*, keunikan kisah Megantaka ini sebenarnya sudah ditunjukkan di awal penceritaannya. Dalam cerita-cerita lisan yang ada di nusantara, sebagian besar tokoh yang dilepas keliar dari rumah atau wilayah kerajaan adalah tokoh laki-laki. Taruhlah contoh, kisah Legenda Sangkuriang dari Jawa Barat. Tokoh laki-laki yang bernama Sangkuriang dibuang dan diasingkan oleh ibunya, Dayang Sumbi sejak masih bayi. Kemudian setelah besar Sangkuriang hadir sengaai tokoh besar dan sakti mandraguna. Lalu, cerita Tujuh Bersaudara, dongeng Riau. Dalam kisahnya, tokoh laki-laki terpaksa dibuang olej orang tuanya karena terjadinya kemiskinan ekstrim. Lalu kemudian hidup besar dan menjadi tokoh yang sangat berpengaruh. Pun, misal kisah Temelak Mangan atai Doyan Neda di Lombok. Tokoh Doyan Neda pun diusir oleh orang tuanya, Pengulu.Alim, karena dipandang sebagai orang yang membawa sial atau menjadi sumber perusak nama baik.orang tuanya. Menariknya, beberapa cerita yang disebut di atas, semua tokoh utama yang mengalami pembuangan atau pengasingan adalah tokoh laki-laki. Namun, di dalam kisah Megantaka, tokoh perempuan-lah yang menjadi "obyek" pembuangan. Di sinilah keunikan yang perlu kita sama-sama kaji kemudian, mengapa sosok perempuan yang dijadikan demikian.
*Kedua*, di awal kisah, cerita Megantaka ini menampilkan imajeri atau gambaran misoginisme. Yang saya maksud dengan hal ini adalah bagaimana bisa tokoh perempuan yang dikorbankan atau dibuang dan dianggap sebagai sosok yang membawa bencana alam dan kesialan hidup kerajaan, sedangkan sosok laki-laki kembaran Putri Ambarasari yang.kemudian dikenal sebagai Panji Tilar Negara tidak begitu. Mengapa bisa begitu? Dalam tafsir saya, pola penceritaan yang seperti ini sudah dipengaruhi oleh pandangan misoginisme, yaitu pandangan yang membenci eksistensi perempuan. Pandangan semacam ini muncul tentu diawali oleh pandangan dan sistem patriakisme di masyarakat, atau yang menguasai penulisnya sebagai "zeit gest" (semangat jaman) dan "vision du monde" (pamdangan dunia)-nya. Dalam perspektif saya, pandangan ini besar kemungkinan memicu semangat penolakan bagi pembaca yang sudah sangat memahami pandangan feminisme.
*Ketiga*, dalam penceritaannya, hal yang menarik pula untuk dilihat adalah peran Alam Semesta sebagai penguasa dan pengatur hidup manusia. Cerita Megantaka berjalan dari awal kisah sampai akhir cerita disebabkan oleh faktor kekuasaan dan atau kebergantungan pandangan manusia terhadap peran alam semesta. Coba kita lihat lebih dalam, pertama, Putri Ambarasari dibuang ke Pulau Emas gara-gara bencana alam yang melanda; lalu kedua, Putri Ambarasari pergi merantau ke Melaka gara-gara ingin mencari penghidupan yang lebih baik karena kondisi alam di Pulau Emas yang tidak menjamin kelangsungan hidupnya; ketiga, konflik dan komplikasi cerita akibat mulanya kapal Putri Ambarasari dan pangeran karam dan hancur lebur di lautan karena faktor alam, bahkan kisah percintaan terjadi dalam cerita Megantaka ini terjadi gara-gara pesona kejelitaan sang Putri Ambarasari, yang kemudian memicu peperangan terjadi antara pihak Megantaka dan pihak Panji Tilar Negara, adik kembar Putri Ambarasari. Dengan kata lain, kisah ini sebenarnya menyuguhkan betapa peran dan kekuasaan alam semesta menjadi penentu berjalannya alur cerita hingga akhir, yang faktanya adalah "happy ending" atau berakhir bahagia. Dalam perspektif teori penceritaan naturalisme Emile Zola, pola penceritaan yang demikian ini disebabkan karena alam semesta sebagai penguasa dan manusia hanyalah sebagai wayangnya saja serta pemicuan terjadinya konflik dalam cerita disebabkan oleh faktor alam dari sisi gelap manusia sebagai bagian alam semesta berupa ambisi-ambisi materialistis.
*Keempat*, hal yang menarik lagi adalah judul naskah ini adalah Megantaka. Umumnya, dalam cerita-cerita sastra lama nusantara, judul naskah akan otomatis menjadi tokoh utamanya yang protagonis atau yang menjadi sosok yang baik. Taruhlah contoh, cerita Sangkuriang, maka tokoh utamanya adalah Sangkuriang. Naskah Doyan Neda, maka tokoh utamanya adalah Doyan Neda. Naskah Jatiswara, maka tokohnya adalah Jatiswara. Kisah Indarjaya, maka tokoh utamanya adlaah Indarjaya atau Sahi Merdam, dan sebagainya. Menariknya, berbeda dari cerita-cerita umum itu, naskah Megantaka sejatinya bukanlah ditokoh-utamakan oleh Megantaka melainkan ditokohkan oleh Putri Ambarasari. Menariknya lagi, tokoh Megantaka tidak ditampilkan sebagai tokoh yang protagonis, tetapi sebaliknya sebagai tokoh antagonis. Dia-lah yang ingin merebut Putri Ambarasari sebagai istrinya atas dasar hawa nafsu dan sikap megalomaniaknya. Dengan kata lain, yang menjadi tokoh utama dan yang protagonis adalah Putri Ambarasari, karena sejatinya cerita ini adalah kisah perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjadi putri dewasa yang cantik jelita dan menjadi sumber konflik dan suspensi cerita. Jika meniru model penjudulan cerita sastra lama lainnya, seharusnya naskah ini berjudul Putri Ambarasari, bukan?
Akhirnya, naskah Megantaka ini, saya yakin, ditulis tidak sekadar dibuat sebagai cerita ninabobo atau cerita pengantar tidur semata. Saya meyakini cerita ini mengandung sekian banyak makna dan pesan yang hendak disampaikan oleh para tetua bangsa kita pada zamannya dahulu. Untuk itu, kita sangat mengharap pembacaan ulang terhadap naskah ini terjadi terus sehingga bisa memberi manfaat bagi masyarakat khususnya sebagai sumber motivasi, edukasi, dan inspirasi bagi masyarakat di jaman sekarang. Dan penulisan ulang kisah Megantaka ini yang dilakukan oleh siapapun nantinya merupakan bagian dari upaya reinterpretasi dari sang penulis terhadap kisah aslinya yang konon diversikan dalam latar Bali serta penulisan ulang kisah Megantaka ini menjadi pemicu kita untuk memaknainya secara lebih kontekstual dengan jaman kita.
Sekian!
Labuapi, 10 Juni 2026
*) Penulis adalah Guru Besar Sastra dan Budaya Universitas Mataram
BEBERAPA KEUNIKAN YANG TAMPAK DALAM KISAH NASKAH MEGANTAKA DARI PERSPEKTIF SASTRA
Reviewed by Prof. Dr. H. Nuriadi Sayip S.S., M.Hum
on
Juni 10, 2026
Rating:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar