DIE WILLE ZUR MACHT (Kehendak untuk Berkuasa)

*DIE WILLE ZUR MACHT*
*(Kehendak Berkuasa)*

Oleh: Nuriadi Sayip

Salah satu istilah dan/atau konsep yang ditawarkan oleh Frederich Nietzsche, seorang tokoh filsafat eksistensialisme dari Jerman, adalah Kehendak untuk Berkuasa (Die Wille zur Macht). Adalah konsep yang menjadikan setiap manusia eksis atau karenanya keberadaan/eksistensinya bisa diakui oleh orang lain atau masyarakatnya. 

Kehendak untuk berkuasa itu, dalam pandangan Nietzsche, menjadi keniscayaan untuk dimiliki oleh setiap manusia jika mau diakui keberadaannya. Sekaligus konsep ini harus untuk alami di dalam diri seseorang, karena dengan itulah seseorang itu bisa mencapai level eksistensi dan kehidupannya yang bernama Ubermensch (Manusia Super). Kehendak untuk berkuasa itu menjadi giroh dan energi baginya untuk bergerak; kehendak untuk berkuasa itulah yang menjadikan dirinya kreatif dan bertindak jelas dan visioner supaya dia bisa "sukses" dalam takaran kehendak awalnya.

Namun, kehendak untuk berkuasa yang dimaksud oleh Nietzsche di sini bukanlah dalam makna simplifikatif, berupa makna peyoratif yang secara khusus langsung berkait dengan politik atau perpolitikan di setiap kontestasi, meskipun itu salah satu bentuk aplikasi dari konsep tersebut. Yang dimaksud oleh Nietzsche adalah sifat dasar yang menjadi pemantik.manusia untuk berjuang hidup. Pemantik itu seperti elan vital yang mampu menjadikan seseorang ada atau muncul sebagai Ubermensch di sana. Konkritnya, seseorang yang ingin menjadi pengusaha, maka ia pasti akan bergerak, bertindak, dan berjuang untuk menjado pengusaha yang sukses. Seseorang yang ingin menjadi dosen yang baik, maka ia pasti akan melakukan berbagai hal yang mendukung dirinya menjadi dosen yang baik dalam kategori formalistik maupun sosial. Seseorang yang ingin menjadi dokter, maka ia akan sejak dini berjuang yang terbaik dalam menempuh semua proses demi menjadi dokter yang bagus. Demikian seterusnya. 

Kehendak untuk berkuasa, singkatnya, bukanlah melulu soal politik atau pencapaian jabatan publik di suatu tempat atau lembaga. Ia adalah "api semangat yang membara di dalam bathin seseorang sehingga mendorongnya bertindak dan berjuang untuk itu". Dalam konteks ini, Nietzsche memandang bahwa kehendak untuk berkuasa bukanlah hal atau energi yang negatif yang cenderjng Machievilian, namun ia merupakan api yang positif ala semangat Emersonian yang terus-menerus membentuk visi seseorang untuk menjadi sukses. Hingga, di titik puncaknya, seseorang akan berkata: "I am therefore I think" (Aku ada maka aku berpikir) bukan lagi "I think therefore I am" (Aku berpikir maka aku ada) seperti yang digaungkan kaum filosof idealisme.

Dalam konteks kontestasi kampus saat ini, pada dasarnya semua kandidat tergerak mendaftar menjadi calon (saat ini, masih bakal calon karena belum ditetapkan oleh panitia secara resmi) adalah didorong oleh semangat atau api die Wille zur Macht. Semangat yang mulia, yang merupakan panggilan jiwanya untuk berbuat lebih kepada bangsa,negara, dan masyarakat luas. Mereka tampaknya memandang bahwa peluang sebagai rektor merupakan wahana untuk mengaplikasikan visi misi hidupnya yang sebelumnya berakar pada kehendak untuk berkuasa. 

Oleh karena, kita sebagai warga kampus menerima dan menyambut mereka dengan tangan terbuka dengan selalu berpesan bahwa jadikanlah api kehendak untuk berkuasa itu terus menjadi sampan untuk berjuang. Ingatlah kehendak untuk berkuasa itu bukanlah nafsu negatif yang cenderung menghancurkan, namun nafsu yang berupa energi visioner dan positif untuk membantu kampus dan warganya melintasi samudera zaman dengan aman dan selamat; janganlah api membara kehendak untuk berkuasa itu menjadi sumber nihilistik kampus. Karena toh Nietzsche pun selalu.mewanti-wanti diri dan murid-muridnya untuk mendengar hati nurani serupa spiritualitas sebagai pendamping di dalam berjuang hingga menjadi Ubermensch. Sekian!

Mataram, 18 Nopember 2025
#CatatanPagidiKampus
#SingPentingHappy
DIE WILLE ZUR MACHT (Kehendak untuk Berkuasa) DIE WILLE ZUR MACHT (Kehendak untuk Berkuasa) Reviewed by Prof. Dr. H. Nuriadi Sayip S.S., M.Hum on November 18, 2025 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.